#LiveInSeries 1 – Haydar Prasetya & Reizzan Setyawan: Berkarya Sejak Muda

0
608

Awal Mula Belajar 3D 

Sebagai anggota termuda yang melakukan project-based learning di Piwulang Becik, Haydar Wira Prasetya (13) dan Mohammed Reizzan Setyawan (14), mengaku menikmati proses menggambar 3D. “Awal mulanya aku bikin gambar cuma main-main aja. Manual, digital, trus sekarang 3D. Tertariknya karena suka animasi-animasi gitu. Lihat behind the scence-nya kan keren tuh, bikin 3D” ujar Haydar saat menceritakan asal mula ketertarikannya pada 3D. Sementara itu, Izzan menyebutkan prosesnya berkarya saat mengerjakan project di studio Kampung Becik. “Awalnya aku bikin stok ikon, trus bikin ilustrasi, dan sekarang 3D. Aku seneng gitu, pengen explore.” 

Haydar dan Izzan menjelaskan bahwa keterampilan membuat karya 3D terasah justru saat bermain game. “Tangan jadi lebih luwes saat pegang mouse,” kata Haydar. Izzan pun menyetujui. “Kalo aku emang suka main game pakai komputer gitu. Jadi pas ngerjain 3D kayak udah enak soalnya mirip-mirip.” 

Menekuni 3D sejak dini dan benar-benar terjun menghasilkan karya, Haydar dan Izzan merasakan kebanggaan tersendiri. “Aku bangga soalnya bisa ngelakuin project yang besar. Pengen nantinya jadi 3D artist,” aku Haydar. “Aku juga ngerasa bangga tapi bisa lebih baik lagi,” tambah Izzan. 

Sejauh ini, keduanya merasa senang dan belum terpikirkan untuk eksplorasi bidang lain. “Kalau penasaran bidang lain nggak ada. Masih belum ketemu yang nyenengin lagi. Masih enjoy 3D. Paling seru itu modeling,” ujar Haydar. “Tapi sebetulnya ada susahnya. 3D kan ada lighting sama texture, jadi kompleks banget,” tambahnya. 

Sebaliknya, Izzan merasa tidak terlalu sulit. “Paling susahnya itu suka ada revisi. Kadang bingung kliennya itu maunya gimana,” terang Izzan polos yang sontak diikuti anggukan setuju oleh Haydar.  

Belajar Mengenai Kecerdasan Ruang 

Selain teknis 3D, Haydar dan Izzan juga belajar hal-hal non teknis, termasuk perihal kecerdasan ruang, terutama relasi dengan Reza Ahmad Prasetya (16) sebagai mentor mereka berdua. “Sebetulnya agak susah buat bedain antara keluarga sama guru. Misalnya kalau sebagai keluarga, aku bisa minta tolong ambilin piring atau nemenin makan. Kalau sebagai guru, aku nurut soalnya masih belajar juga,” ungkap Haydar. Hal serupa disebutkan juga oleh Izzan. Ia menyadari peran saat project-based learning berbeda dengan saat di waktu luang. “Kalau di ruang kerja, mas Reza jadi mentor kita. Jadi manut gitu. Kalau lagi main ya kayak mas aja.” 

Memaknai Kesalahan dan Masalah 

Semua manusia tak luput dari kesalahan. Begitu pula dengan Izzan dan Haydar. “Pernah waktu itu, sore-sore Haydar ajak aku main trus aku langsung ikut ke sana nggak pakai sendal. Nggak becek sih, tapi kan jadinya kotor. Trus ditegor om Aris. Dari situ jadi sadar kalau keluar harus pakai sendal. Jadi nggak tersinggung kalau diingetin,” kenang Izzan. “Aku juga sama. Yang lainnya aku lupa. Tapi kalau aku agak kesel juga,” sahut Haydar jujur. 

Selain kesalahan, mereka pun tak lepas dari masalah. Namun menariknya, baik Haydar maupun Izzan merasa tidak terlalu mempermasalahkan. “Aku nggak nyadar kayaknya. Nggak nganggep itu masalah. Jadi kalau ngerjain 3D kan kita perlu komputer yang spec-nya bagus. Jadinya sering nge-freeze gitu. Trus restart komputer paksa. Solusinya upgrade PC,” cetus Haydar. “Kalau aku pernah sih tapi ya kalau ada masalah trus sudah selesai masalahnya, jadi lupa,” sambut Izzan. Intinya, buat mereka berdua, tips menyelesaikan masalah adalah tidak berlarut-larut dalam masalah tersebut. Cari solusinya lalu move on.  

Proses Adaptasi di Ruang Komunal 

Berada jauh dari rumah dan belajar hidup mandiri, Izzan menceritakan pengalamannya beradaptasi dengan lingkungan baru. “Awal-awalnya kan aku di sini jauh dari orang tua. Bisa tapi aku ya kangen sih,” ungkapnya jujur. Sementara itu, Haydar merasa senang akhirnya punya teman sebaya. 

Mereka juga bercerita mengenai kebiasaan makan, terutama saat makan siang. “Kalau soal makanan, rasanya beda, tapi enak soalnya laper,” Izzan tertawa renyah. Ia juga melakukan kegiatan bersih-bersih seperti menyapu, cuci piring, dan membersihkan meja. Berbeda dengan Izzan yang lahap makan apapun, Haydar lebih memilih menu makan yang berbeda dari yang lainnya. “Soalnya di sini kebanyakan makannya sayur. Aku kurang suka,” jelasnya blak-blakan. Meski demikian, ia tetap ikut berbaur dan berkumpul saat makan siang. 

Terkait interaksi dengan teman-teman yang berbeda umur, Haydar dan Izzan tidak merasa ada perbedaan yang signifikan. Mereka bisa membaur seperti bermain game bersama, olahraga basket, menonton bioskop, dan sebagainya. “Sebenernya sama kakak-kakak di sini biasa aja sih. Manggilnya sih tetep kak, tapi ngobrolnya santai. Kalau bosen biasanya refreshing trus nyapa kakak-kakak ‘halo, lagi ngapain?’,” jelas Izzan. “Aku juga biasa aja sih. Udah terbiasa bertaun-taun main bareng beda umur,” sahut Haydar.  

Harapan ke Depannya 

Ketika bicara masa depan, baik Haydar maupun Izzan merasa ingin hidup bebas. “Kalau aku, 4-5 tahun udah ada studio jadi udah ada orang yang ngurusin,” tutur Haydar. Selaras dengan Haydar, Izzan bercita-cita ingin memulai bisnisnya sendiri. “Kalau aku ke depannya pengen punya studio juga. Umur berapanya belum tau, yang pasti aku udah tinggi,” katanya ceplas-ceplos sambil tertawa.

Tonton wawancara lengkapnya di:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here