Homeschooling: Belajar Sambil Jalan-Jalan

0
505

Sarah Diorita (31), ibu dari El Pitu (12), salah satu murid Piwulang Becik, pada Jumat siang lalu (23/12) berkunjung ke Piwulang Becik dan berbincang akrab tentang perjalanan homeschooling dirinya maupun anaknya. 

Pengalaman Menjadi Homeschooler 

Sebagai perempuan berdarah campuran Perancis-Indonesia, masa kecil Sarah dihabiskan dengan bepergian. “Ibu saya orang Perancis, ayah saya orang Indonesia. Jadi otomatis walau kami lebih banyak menghabiskan waktu di Indonesia, tapi dalam setahun pasti ada ke Perancisnya. Makanya dari kecil itu sekolah memang terbagi. Sekolah di sini dan sekolah di sana. Nggak pernah full setahun di kelas yang sama,” ujarnya. 

Kondisi seperti itu ia jalani sampai akhir kelas 4 SD. Di kelas 5 – 6 SD, ia melanjutkan sekolah internasional untuk melancarkan bahasa Inggris dan mendapatkan insight dari jenis pendidikan yang lain. Di masa SMP, situasi keluarga membuat ia akhirnya menjalani homeschooling. “Kan saya anak tunggal. Cuma saya dan ibu saya. Jadi kami bikin deal. Saat itu lagi banyak traveling. Ibu saya memutuskan ‘yaudah kamu homeschooling sehingga kamu bisa ikut saya ke mana aja’. Jadi kami jalan-jalan itu dengan homeschooling kurikulum Perancis. Saya ingat sekali 3 tahun itu banyak belajarnya justru dari pengalaman jalan-jalannya.” 

“Setau aku sekarang homeschooling di Perancis udah nggak boleh karena mereka pengen ada satu standar tertentu. Zaman dulu semua tugas dan modul-modul dikirim dalam bentuk hard copy terus aku kerjain, kirim balik, dinilai, dan kirim balik lagi ke aku. Dulu karena kita dapat duluan kurikulum satu semester, jadi ngerjainnya kalau pas bisa, ya bisa ngebut. Kalau pas nggak bisa, kita take time. Enaknya di situ. Jadi ketika ada waktu luang, kita bener-bener bisa ngerjain hal yang kita suka,” kenangnya. 

 

Awal Mula Mendidik Anak dengan Cara Homeschooling 

Dari pengalaman tersebut, istri dari Eross Candra (41), gitaris band Sheila on 7, ini mengaku menikmati proses yang menginspirasinya untuk mendidik Pitu dengan cara homeschooling juga. “Jadi sebenernya ide untuk homeschooling pengennya itu dari awal SD. Suami juga setuju karena saya pernah homeschooling, tahu betapa serunya belajar dengan cara lain. Kebetulan keluarga kami juga lumayan sering jalan-jalan. Jadi kok kayaknya lebih cocok daripada harus bolos sekolah dan tertinggal pelajaran. Jadi yaudah sini kita aja yang ngajarin. Tapi kan harus cari tahu legalitas di Indonesia itu seperti apa. Apakah boleh? Kalau boleh, formatnya seperti apa? Karena seperti di US kan tidak semua negara bagian mengizinkan untuk homeschooling. Jadi ada waktu cukup lama untuk cari tahu sana-sini. Apalagi kita pengennya homeschooling gaya bebas. Artinya, apa yang mau dipelajari itu ada di tangan anak dan orang tua. Tapi beberapa homeschooling harus lewat lembaga di mana anak harus ke sana seminggu 2-3 kali. Lah ini sama aja. Mending dia sekolah kan,” jelasnya. 

Proses pencarian tersebut akhirnya mempertemukan pengusaha katering Lokaloka Lab ini dengan Piwulang Becik dan memutuskan mendaftarkan Pitu sebagai siswa di sini sejak kelas 3 SD karena merasa cocok dengan ‘gaya bebas’ yang diinginkan keluarganya. Namun selama proses pencarian wadah pendidikan homeschooling yang paling sesuai, Sarah menyekolahkan anaknya di sekolah formal.

“Awalnya sih sekolah ya karena anak kami kan anak tunggal. Saya berpikiran kayaknya dia tetap harus sekolah deh. Biar ada temen. Terus setelah kami pikir-pikir, kayaknya kalau temen nggak harus di sekolah deh. Mungkin karena dia makin besar ya, makin mudah diajak ke mana-mana. Dan anak saya tuh beberapa kali pas saya nganter ke sekolah, dia nanya ‘kenapa aku harus belajar tuh di sekolah?’ JENG JEEENG! Ya sementara begini dulu sambil ayah-ibu cari tahu. Kami kenal anak kami ya. Dia kayaknya tipe yang kalau dibebaskan, artinya kami yang mengikuti apa yang dia suka, kok kayaknya lebih banyak masuk, lebih mudah belajarnya. Jadi mungkin dia perlu sistem belajar yang berbeda. Makanya akhirnya kami putuskan dia untuk homeschooling,” terangnya. 

 

Tantangan Menjalani Homeschooling 

Meski terkesan bebas, homeschooling bukan berarti bebas dari tantangan. “Tantangan itu banyak ya. Maksudnya, bukan berarti dengan homeschooling semuanya jadi lebih santai dan nyaman. Nggak juga. Tantangannya justru menurut saya lebih banyak tetapi menyenangkan karena kami semua sekeluarga sama-sama belajar, berproses. Kalau sekolah kita menyerahkan sebagian hari anak itu kepada orang lain, kalau ini bener-bener kami yang kendalikan gitu kan. Nilai-nilai apa yang ingin kita tanamkan ke anak tuh sepenuhnya dari kami dan itu alami karena benar-benar kita jalani sehari-hari.” 

Ia menyebutkan salah satu tantangannya adalah disiplin dalam konteks konsistensi jadwal. “Kita kan keluarga nyeni semua. Ayahnya seni, saya juga nggak ada jam kantor, jadi disiplin itu salah satu yang paling susah. Tapi ya sambil jalan sih. Tentunya nggak sempurna ya. Kita nggak mencari kesempurnaan juga karena pasti semester ini sama semester depan atau bulan ini sama bulan depan, udah beda ritmenya. Kami pintar-pintar menyesuaikan aja. Oke bulan ini kita akan banyak jalan. Gimana nih kita belajarnya? Jadi selalu di-update, bukan dari jam segini sampai jam segini kamu harus ini. Nggak. Tapi dia ada juga aktivitas yang udah ter-schedule kayak les bahasa Jepang. Terus biasanya kalau kami di rumah, pagi sampai siang itu memang momen dia belajar. Bisa apa aja. Biasanya tuh ada folder tertentu di mana dia bisa mengikuti pelajaran online terdaftar atau dia bisa ambil file worksheet di folder yang dia mau, gambar, atau buat Lego gitu. Pokoknya ada proses belajar di situ. Jadi ya lebih ke soal penjadwalan sih menurut saya,” tuturnya. 

“Tantangan lainnya, menemukan minat. Ketika kendala nih misalnya dia mulai sesuatu terus kok kayaknya kurang suka ya kita jadi harus cari lagi. Tapi ya memang itu yang menyenangkan juga. Dan itu yang menarik karena kami sebagai orang tua sepenuhnya berada di situ, di momen-momen tersebut, dan keputusan kita ambil bersama. Jadi saya rasa yang paling menyenangkan itu kami semua belajar. Paling menyenangkan dan paling menantang juga. Tapi kembali lagi ke keputusan awal kenapa sih kita homeschooling. Jadi yaudah nanti pasti ada aja cara yang kita temukan. Solusinya,” sambungnya. 

 

Hal yang Menyenangkan Saat Homeschooling 

Dalam proses wawancara, Eros berceletuk spontan bahwa hal menyenangkan dari homeschooling adalah tidak harus bangun pagi. Hal ini menimbulkan gelak tawa semua orang. Sarah kemudian menjabarkan, “Sebenernya sih kenapa nggak harus bangun pagi itu juga jauh lebih alami untuk kami jalankan karena kan sefleksibel itu. Jadi tidak bersebelahan dengan kehidupan kita sehari-hari. Jadi kita hidup bersama tapi juga masing-masing.”

Selain itu, ia menambahkan bahwa ada kepuasan tersendiri saat melihat hasil setelah melewati berbagai kesulitan bersama. “Kalau lihat progress, seneng banget karena ini hasil kerja keras bersama. Reward-nya di situ. Terus bonding juga. Kemudian kita jadi lebih ada waktu ketika kita harus pelan ya kita memelan, saling cari tahu kira-kira kenapa ya? Kita sebaiknya seperti apa ya? Itu semua dikomunikasikan bersama dan itu yang paling menyenangkan. Terus bebas aja. Maksudnya, topik pembelajarannya jadi lebih seru karena tidak terkait dengan hal yang sudah ditentukan. Bener-bener pertanyaan muncul dari keseharian anak. Jadi dari kami pun kadang jadi harus cari tahu juga,” ujarnya antusias. 

Hal menyenangkan lainnya adalah dengan proses homeschooling, guru bisa datang dari mana saja, termasuk dari nenek. “Di sini kita mengikutsertakan neneknya dan dia akhirnya merasa punya peran kembali. Benar-benar menganggap serius. Seneng karena waktu Pitu ke sana, benar-benar disiapin belajar apa. Jadi sangat terbantu karena mitologi dan sejarah itu bener-bener bukan hal yang aku kuasai tapi ibuku iya. Pokoknya aku serahkan waktunya dengan nenek.”

 

Sosialisasi bagi Anak Homeschooler 

Bagi orang tua yang ingin memulai homeschooling, salah satu pertimbangan adalah bagaimana anak akan bersosialisasi dengan teman sebayanya. Bagi Sarah, ia tak terlalu memusingkan dan khawatir akan hal tersebut. “Kalau segi sosialisasi sih sebenernya bisa dicari ya, bisa diakalin. Memang kalau tidak diatur bisa dengan sangat mudah jadi tertutup. Tapi kan anak pasti ada aktivitas di luar. Nggak mungkin selamanya dia sendiri di rumah. Misalnya ada minat untuk pingpong, kan dia ketemu dengan pelatihnya, kemudian nanti kalau ada rencana dia ikut klub, pasti akan berteman dengan anak-anak di klub itu karena udah seminat kan. Jadi soal berteman, ah itu mah bisa dicari sih. Pinter-pinter orang tuanya aja. Orang manusia banyak banget kok,” jawabnya santai. 

 

Bukti Pembelajaran Anak Homeschooler 

Bagi para pegiat homeschooling, jurnal dan portofolio menjadi bagian dari keseharian, tak terkecuali Sarah dan Pito. Sambil bercerita, Sarah menunjukkan 5 jenis dokumen yang ia bukukan bersama anaknya. Mulai dari jurnal yang ditulis sendiri oleh Pitu, dokumentasi perjalanan saat traveling, portofolio project Lego, rangkuman kegiatan dalam satu semester, juga kumpulan worksheet dan sertifikat yang disimpan rapi dalam satu arsip. 

“Kayaknya ini bawaan dari ibu ya. Dulu kami harus berpindah-pindah, jadi pinter-pinternya ibu saya simpan dokumentasi buat jaga-jaga. Kira-kira kalau masuk sekolah nanti, dimintain apa ya? Kan jadinya kita harus punya semua ya. Dan dari kecil memang diajarkan untuk misalnya saya gambar, pasti disimpan sama ibu. Di-frame lah, dimasukin ke file lah, jadi kalau portofolio memang sealami itu sih kalau buat saya. Saya juga ajarin itu ke anak. Dia kan nggak terlalu akademis, tapi seneng bikin-bikin nih kayak bikin Lego. Dijadiin project aja.” Sembari membuka dokumen portofolio, Sarah mulai menjelaskan dengan penuh semangat. 

“Mungkin di Piwulang kan banyak ditekankan ya betapa pentingnya portofolio. Itu yang nanti akan jadi bukti nyata ketika kita mau masuk kuliah lah, mau ke dunia kerja lah, dan untuk kenang-kenangan juga. Untuk seorang ibu, ada sisi emosionalnya ngeliat anak berkembang. Seneng juga karena anak ikut menyusun portofolio. Jadi dia melihat sendiri buktinya. Mungkin 3 tahun lagi dia akan bilang, ‘Ah, ini mah gampang banget!’ tapi kan dia lihat ada progress. Semuanya diberi nilai dalam arti tidak hanya disimpan di kolong dan dijadikan kertas buat coret-coret atau apa tapi dia menyusun ini tuh ada hasilnya. Maksudnya, gambar ditaroh di file dengan dibiarkan gitu aja kan beda ya. Dan dalam prosesnya, ketika orang tua juga mem-file-kan hasil karyanya kan dia merasa ‘oh ternyata aku bikin ini tuh dihargai ya.’ Itu penting sih menurut saya proses portofolio itu. Bener-bener menambah rasa percaya diri dan semangat pada anak,” tambahnya. 

 

Merancang Kurikulum Homeschooling 

Di balik portofolio yang disusun dengan amat rapih, ternyata ada proses perancangan kurikulum yang sangat personalized, menyesuaikan dengan minat dan kondisi saat itu. “Sehari-hari tetep ada ya guidance dari orang tua karena pasti anak ada hari di mana dia nggak tahu mau belajar apa, jadi kita kasih opsi. Tapi jarang sih karena kan tiap hari orang tua sama anak komunikasi ya. Jadi pasti ada lah topik pembelajarannya. Aku rasa nggak akan pernah mentok atau bingung. Tapi kadang anak juga dibebaskan misalnya ketika bikin Lego. Itu juga harus dianggap sebagai proses belajar. Dia gunting-gunting, dia ngecat, itu kan proses berkembang ya. Homeschooling sekarang di Indonesia sangat enak. Memang ada setara daring. Tapi selebihnya bener-bener disesuaikan dengan keluarga dan apa yang anak senang,” terangnya.

 

Harapan ke Depan untuk Anak 

Sebagai penutup, Sarah membagi harapannya untuk masa depan Pitu. “Ke depannya sih bebas ya. Selama tidak menyakiti orang lain, dianya happy, bahagia, dan selalu ingat itu bisa berguna bagi sekitar dia, itu aja cukup. Kita nggak punya gol yang gimana-gimana yang penting dia nyaman dengan apa yang dia lakukan, itu kita udah bahagia sekali. Pokoknya bebas asal jangan merugikan orang lain,” tutupnya.

Tonton wawancara lengkapnya di: