#LiveInSeries 2 – Ivo Febrian: Mengatasi Ruang Sulit

0
210

Sejarah Bergabung dalam Komunitas  

Ivo Febrian (19), seorang lulusan SMK 7 Semarang asal Kudus yang kini sedang live in di Piwulang Becik, menceritakan pengalamannya tergabung bersama komunitas. Berawal dari belajar desain dan membuat ikon dalam program magang di Karir Anak, kini ia mulai merambah ke bidang 3D. “Awalnya aku bingung mau magang di mana. Tapi di antara semua perusahaan yang ada di daftar pilihan, aku tertarik sama Karir Anak. Sebenernya aku bimbang banget pilih Internet of Things (IoT) atau desain, cuma akhirnya aku pilih desain,” kenangnya. 

Saat mempersiapkan diri untuk magang, Ivo mulai belajar menggambar 2D dan membuat ikon-ikon secara otodidak. “Aku belajar lewat Youtube. Gada kuratornya. Kuratornya diri sendiri aja. Kalau udah ngerasa bagus, udah.” 

Lambat laun, ia mulai tertarik dunia 3D dan mengulik secara mandiri dengan peralatan seadanya. “Laptopku tuh kentang kalau belajar 3D. Tapi aku pengen soalnya itu hal baru. Aku liat peluangnya tuh yang bisa 3D belum banyak. Jadi aku memutuskan buat belajar itu dengan device yang apa adanya.” Ia menyebut dirinya sebagai orang yang tidak mau kalah sehingga ia terus mengasah keterampilannya, apapun tantangannya. “Di satu sisi aku harus bisa lebih cepet tapi aku juga harus tau laptopku kemampuannya seberapa. Jadi aku harus mikir 2 kali. Kalau aku bikin yang terlalu berekspektasi tinggi, kalau device-nya nggak kuat ya sama aja.” 

Setelah 8 bulan mengerjakan proyek ilustrasi dan micro stock, oleh mentornya, Ivo ditawari untuk belajar 3D. “Wah jelas aku mau banget! Dikabarin jam 12 siang waktu makan, beres-beres, jam 1 langsung berangkat ke Salatiga,” ujarnya dengan antusias.  

Pengalaman Live In – Kebiasaan Baru yang Dibentuk 

Menjalani proses live in di Salatiga, salah satu hal yang ia rasakan berubah dari dirinya adalah bisa masak. “Selama ini aku liat aja temen-temen masak. Paling bantu-bantu sedikit. Lebih banyak melihat. Setelah pulang dari sini, aku jadi mikir. Sebenernya selama ini aku bukannya nggak bisa masak, tapi nggak berani aja. Wah, langsung aku coba lah masak yang belum pernah aku masak. Waktu itu aku coba masak bayem jagung. Aku yang sebelumnya belum pernah ke pasar, nggak ngerti caranya rebus jagung, ya gas coba aja dulu lah. Ternyata pas dicobain, masih layak buat dimakan. Emang layak sih,” ceritanya sambil tertawa. 

Untuk keseharian lainnya, ia menyebutkan ada kebiasaan baru yang dibawa dari proses live in, contohnya kebiasaan doa bersama di pagi hari sebelum mengawali kegiatan. 

Tak hanya itu, kebiasaan gotong royong dalam membersihkan lingkungan juga terbentuk selama live in. “Di sini kan kalau pagi bersih-bersih. Kewajiban semua orang yang ada di sini. Pagi bersih-bersih kebun depan, samping, kebun kopi. Ya aku seneng sih bisa ngelakuin itu karena hobiku dulu berkebun. Jadi aku menemukan hobiku lagi. Suka liat yang ijo-ijo. Karena kebiasaan itu, pagi aku nggak usah nunggu ngerjain apa atau nunggu perintah, langsung ambil sapu.” 

Meski demikian, ada satu hal yang ia ingat saat berbincang dengan Aris Prasetya (52), kepala sekolah Piwulang Becik. “Aku tuh inget banget obrolan om Aris tentang bermuka dua. Contohnya aja kalau di rumah jelek, tapi di studio pengen terlihat bagus. Itu kan jadinya nggak autentik dengan karakter diri sendiri. Capek juga ingin terlihat lebih dari apa yang dipunya. Jadi kalau di studio bersih-bersih dan pengen nunjukin sisi terbaik diriku, di rumah harusnya juga gitu,” terangnya saat menceritakan percakapan yang berkesan selama live in di Salatiga. 

Kekurangan Bukan Halangan – Kondisi Buta Warna Parsial 

Selain berbagi pengalaman live in, Ivo juga bercerita mengenai kesulitan yang ia hadapi selama ini. Industri desain sangat erat kaitannya dengan warna. Meski demikian, Ivo yang didiagnosa buta warna parsial tidak melihat hal tersebut sebagai keterbatasan. Justru, ia menjadikan hal tersebut sebagai tantangan yang perlu dihadapi, bukan dihindari. 

“Aku pertama tau aku buta warna parsial soalnya aku pengen masuk SMK. Saat aku cari-cari persyaratannya, ternyata salah satu syaratnya itu tes buta warna. Trus aku cari-cari di Youtube dan coba tes yang bentuknya lingkaran dengan angka dan warna. Loh kok jawabanku buta warna parsial semua. Trus aku riset dan tes lagi. Tapi jawabannya buta parsial terus. Di situ aku makin yakin soalnya yang orang lain bisa liat, aku nggak bisa. Sebaliknya, aku bisa liat angka ini, orang lain nggak bisa. Tapi karena aku mau masuk SMK, aku bener-bener harus mempersiapkan dengan matang, gimana caranya supaya bisa tetap diterima. Ternyata lolos.” 

Selama 3 tahun bersekolah dan setahun magang, ia berhasil melewati tantangan warna dengan strategi yang ia lakukan. “Aku jarang banget nyebutin warna. Misalkan, ini warnanya pakai ini. Jadi nggak nyebut itu warna apa, tapi nunjuk warna.” 

Namun, ada satu momen di mana akhirnya ia mengaku bahwa ia buta warna parsial. “Saat itu, aku lagi belajar ilustrasi. Di situ aku salah buat ngasih warna. Mentorku bilang ‘loh itu salah. Wah kamu buta warna ya’. Aku jawab aja ‘loh emang iya’. Mentorku kaget dan satu komunitas tau semua. Tapi aku ngerasanya itu udah waktunya aku ngaku. Toh satu tahun aku udah berhasil melewati desain yang urusannya dengan warna. Jadi aku ngeliat kekuranganku itu dicari jalannya. Dengan parsialku, aku menemukan caraku sendiri. Sekarang, aku malah menganggap kekuranganku sebagai kelebihan.” 

Mendobrak Ruang Sulit – Latihan Public Speaking 

Dari proses wawancara, sekilas Ivo terlihat sebagai orang yang lancar berbicara depan umum. Ternyata, ia mengaku dulu ia tak seperti sekarang. “Aku tuh sebenernya orangnya pendiam. Awal-awal magang aku diem aja, cuma denger orang ngomong, nggak ada interaksi sama sekali. Kalau nggak dipancing, nggak ngomong. Tapi setelah itu, aku dapet wejangan, kalau nanti aku punya studio, punya karyawan, cara ngobrolku tuh gimana? Kalau mereka salah, aku nggak bisa ajak ngobrol, jadi tambah salah, akhirnya malah jatuh semua. Di situ aku mulai sadar dan sedikit demi sedikit latihan komunikasi. Misalnya kasih tebak-tebakan. Padahal sebelumnya aku nggak pernah becanda. Pada kaget juga sih, cuma untungnya jokes-nya masih masuk. Pada ketawa,” celotehnya panjang. 

“Dari situ, aku mulai dengan ngobrol berdua, ngobrol mastermind, sampai akhirnya aku diminta untuk buka forum kecil. Di situ aku belajar menghadapi semua orang yang melihat diriku. Aku paling nggak bisa dilihat orang banyak. Itu ndredeg, pikiran nge-blank, parah pokoknya. Tapi aku jadi belajar nge-handle forum sampai disuruh mimpin forum. Wah itu tantangan paling besar sih. Awalnya cuma 5 orang, trus jadi sekitar 25 orang. Itu pengalaman yang bener-bener wow. Dari situ aku jadi paham cara bicaraku, karakterku, dan kenalan dengan orang-orang baru gimana.” 

Ivo menutup ceritanya dengan konsep yang ia pahami tentang belief system. “Kuncinya itu dari mindset. Mindset ini akan membentuk perilaku, perilaku membentuk kebiasaan. Kebiasaan yang diulang-ulang akan jadi realita kita. Ini prinsip yang aku pegang selama ini.”